Merasa kewalahan menghadapi pemuda dihadapan mereka, dengan segera mereka berdua melesat bersamaan, bekerja sama menerjang Lynx dengan kecepatan kilat. Tinju mereka dipenuhi oleh energi yang bisa merobek udara, masing-masing mengerahkan kekuatan penuh yang cukup untuk meratakan sebuah gunung kecil.

"Crushing Titan Fist!" teriak rekannya, melayangkan pukulan yang dipenuhi aura emas, menggetarkan ruang di sekitarnya.

"Void Shattering Palm!" Luo Zhen menyusul, telapak tangannya menebas udara, meninggalkan riak energi yang beresonansi dengan ruang itu sendiri.

Namun, Lynx hanya mengangkat tangannya dengan santai.

Duar!

Benturan yang seharusnya bisa menghancurkan tubuhnya malah lenyap begitu saja. Tinju dan telapak mereka mendarat tepat di tangan Lynx, namun bukannya menghancurkannya, kekuatan mereka seolah ditelan ke dalam kehampaan.

Mata Luo Zhen melebar. "Tidak mungkin...!"

Mereka tidak menyerah. Dengan amarah yang membuncah, mereka kembali melancarkan serangan bertubi-tubi.

"Iron Mountain Collapse!"

"Dragon King’s Roar!"

"Celestial Crushing Wave!"

Tinju dan telapak mereka terus menghantam ke arah Lynx, menciptakan badai energi dahsyat yang mengguncang sekitar gua. Namun, Lynx tetap di tempatnya, menangkis setiap serangan hanya dengan satu tangan. Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada teknik yang tampak megah, hanya pertahanan sederhana yang terasa lebih kuat dari baja abadi.

Krak!

Dengan satu gerakan ringan, Lynx mengibaskan tangannya. Kekuatan yang mereka lancarkan seketika terpental balik, menghantam mereka dengan keras. Mereka terdorong ke belakang, jatuh tersungkur dengan wajah penuh keterkejutan.

Luo Zhen merasakan lengannya bergetar hebat. Ia mendongak, menatap pemuda di hadapannya. Lynx bahkan belum berniat melawan.

"Kalian sudah selesai?" tanya Lynx dengan nada datar, seolah pertarungan ini hanyalah hiburan baginya.

Luo Zhen menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa takut.

"Aku tidak akan bisa mengalahkannya, sebaiknya aku pergi dari sini." batin pria disamping Luo Zhen. Dia merasa ngeri dan tidak ingin menghadapi lagi pemuda didepannya. Dengan tiba-tiba, dia berbalik dan berusaha melarikan diri. Namun, sebelum ia dapat melangkah jauh, dua cahaya tipis tak kasat mata melesat dari mata Lynx.

Srak!

Pria itu terhenti seketika, tubuhnya jatuh terkapar dengan dua lubang kecil yang terbakar di dahinya. Matanya terbuka lebar dalam keterkejutan, tak menyadari bagaimana ia telah terbunuh.

Lynx merubah niatnya, jika manusia seperti mereka dibiarkan, mereka bisa kembali membawa masalah untuk kota Huoling. Setidaknya dengan membunuh mereka, bisa membuat orang yang ingin berniat jahat akan berpikir dua kali karena berpikir ada yang melindungi kota tersebut.

Selain itu Lynx juga teringat tentang sekte kegelapan, Lynx yakin mereka ada hubungannya, karena sama-sama menargetkan walikota.

Luo Zhen tersentak. Ia menoleh pada mayat rekannya, napasnya tercekat. Apa yang barusan terjadi? Mengapa pria itu mati tanpa sebab yang terlihat?

Ketakutan merayapi tubuhnya.

"Dia bukan manusia biasa, aku tidak pernah melihat kultivator seperti dia. Bahkan aku yakin, ranah Immortal juga tidak mungkin menangkis serangan kami tanpa ada fluktuasi energi qi yang muncul." Luo Zhen keluar keringat dingin. Baru kali ini dia merasakan perasaan takut selama hidupnya, dari awal dia berlatih hingga menjadi seorang grandmaster seperti sekarang belum pernah menemui seseorang seperti pemuda di depannya.

Ia tahu bahwa melarikan diri dengan cara biasa tidak mungkin dilakukan. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan sebuah artefak berbentuk gulungan hitam dari cincin penyimpanannya. Seketika, bayangan-bayangan hitam menyembur keluar dari gulungan itu, melesat ke arah Lynx bagaikan cakar-cakar iblis yang ingin mencengkeram tubuhnya.

Segera bayangan-bayangan hitam menyerang Lynx.

Kali ini, meski tubuhnya memiliki kekuatan yang maha dahsyat, namun tidak mampu menghilangkan serangan bayangan-bayangan yang datang tanpa henti, berusaha merampas jiwanya. Setiap kali Lynx memukul dan menghancurkan bayangan tersebut, akan bermunculan bayangan-bayangan lain dalam jumlah yang semakin banyak.

"Boleh juga permainan yang kamu punya." Kata Lynx dengan santai sambil memukul bayangan yang menyerang tanpa henti.

Luo Zhen tahu, serangan dari artefak itu tidak akan mampu menghentikan Lynx. Dia segera memanfaatkan momen itu. Saat Lynx menghindari bayangan-bayangan tersebut, ia segera merobek selembar kertas formasi yang berpendar dengan cahaya kuning keemasan.

Wush!

Sebuah portal bercahaya terbuka di hadapannya. Tanpa ragu, Luo Zhen melompat ke dalamnya, menghilang dalam sekejap mata. Formasi itu membawanya pergi ribuan kilometer jauhnya dari gua tersebut, meninggalkan Lynx sendirian di tengah kehancuran yang telah ia sebabkan.

Lynx melihat kepergian Luo Zhen, dia bisa saja mengejarnya dengan mendeteksi keberadaannya yang sudah sempat dia hapalkan ke seluruh benua ini, namun Lynx merasakan kehadiran Ling Mei yang mendekat.

"Haih, wanita menyebalkan ini lagi yang datang." Batinnya. Dia kesal karena melihat wajah Ling Mei membuatnya semakin merindukan Leena, kekasihnya.

Lynx segera mengerahkan sedikit energi saktinya untuk menghancurkan bayangan-bayangan yang terlihat semakin banyak menyerang dirinya bagaikan serangan tanpa batas. Dalam sekejap, semua bayangan yang menyerang Lynx menghilang tanpa bekas.

Beberapa saat kemudian, sosok Ling Mei muncul di kejauhan, melesat bagaikan angin puyuh. Matanya yang biasanya dingin kini dipenuhi kekhawatiran. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri Lynx.

"Kau!" Suaranya penuh kemarahan. "Apa kau benar-benar tidak punya otak?! Berani-beraninya datang sendirian ke tempat seperti ini? Apa kau bosan hidup, hah?"

Lynx hanya meliriknya sekilas tanpa ekspresi. Alih-alih menjawab, ia berbalik dan mulai melangkah menuju gua, seolah tidak mendengar ocehannya sama sekali.

Ling Mei mengepalkan tangan, merasa amarahnya semakin memuncak. Ia memang terbiasa bersikap dingin, tapi kali ini kata-kata meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa bisa ditahan.

"Xiao Ling! Hei, dengarkan aku!" Ia berjalan cepat di sampingnya, mencoba menatap wajah pemuda itu, namun Lynx tetap tak menggubrisnya.

Barulah ketika ia melihat sekeliling, napasnya tersentak.

Hutan yang sebelumnya rimbun kini nyaris musnah. Tanah hangus terbakar, pohon-pohon hilang seperti tidak pernah ada. Udara masih dipenuhi sisa-sisa energi yang begitu pekat hingga membuat tubuhnya sedikit bergetar.

Ling Mei memicingkan mata.

"Pertempuran seperti apa yang sudah terjadi di sini...?" gumamnya.

Ia memejamkan mata sesaat, mencoba merasakan kehadiran orang lain di sekitar mereka. Namun anehnya—tidak ada siapa pun. Tidak ada jejak energi para lawan yang seharusnya masih tersisa.

"Xiao Ling." Nada suaranya kini berubah lebih serius. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Lynx tetap tidak menjawab. Langkahnya tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Kening Ling Mei berkerut. Ia akhirnya bergerak kembali menyusul Lynx, dan saat itulah matanya menangkap sesuatu di tanah dekat gua. Sebuah mayat tergeletak tanpa nyawa.

Mata Ling Mei membelalak.

"Xiao Ling, tunggu! Siapa dia...?"

Ia berbalik menatap Lynx dengan penuh selidik. Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya. "Apakah dia salah satu kultivator yang dimaksud walikota? Kenapa dia bisa terbunuh. Mungkinkah Xiao Ling yang membunuhnya? Tetapi tidak mungkin, tingkatannya hanya forging Qi tingkat satu. Kalaupun dia menyembunyikan Kultivasi dengan artefak, tidak mungkin menyembunyikan kekuatannya sebanyak itu, apalagi melawan Kultivator tingkat master foundation emas hitam. Lalu bukankah seharusnya ada tiga orang, dan salah satunya grandmaster fana?" Batinnya dengan penuh tanda tanya.

Mendengar pertanyaan Ling Mei, Lynx mengangkat bahu tanpa peduli. "Aku tidak tahu. Aku baru saja datang."

Ling Mei terdiam.

Jawaban itu terasa aneh. Ia tahu Lynx bukan orang bodoh, tetapi kata-katanya kali ini terdengar terlalu santai untuk seseorang yang baru saja tiba di tempat pertempuran.

Namun sebelum ia bisa mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Lynx sudah melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gua, meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab.

Tak lama setelah Ling Mei terdiam dalam kebingungannya, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar. Dari kejauhan, sosok Walikota Huoling akhirnya muncul, wajahnya dipenuhi kecemasan. Begitu sampai di area pertempuran, ia terhenti sejenak, matanya membelalak melihat kehancuran yang terjadi di sekelilingnya.

"Apa yang... terjadi di sini?" Suaranya bergetar.

Matanya segera menemukan sosok mayat yang tergeletak di tanah. Napasnya tercekat. Dia mengenali pria itu sebagai salah satu pria yang ikut bersama Huo Zhen menyerang kediamannya, dan dia tahu tingkatannya sangat tinggi.

